Senin, 28 Mei 2012

MAKALAH EKOLOGI KOMUNITAS


EKOLOGI UMUM

EKOLOGI KOMUNITAS


KELOMPOK 8 :
Ø RESKY PRAYODA                   (H41111321)
Ø INNEKE SINTYA            (H41111322)
Ø GRACE CHRISTINE       (H41111324)
Ø MUH. HAIDIR A.             (H41111325)











PROGRAM STUDI BIOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa oleh karena berkat serta perlindungannya sehingga penulisan makalah mengenai “Ekologi Umum” yang lebih membahas mengenai “ Ekologi Komunitas“  dapat selesai pada waktunya.
“Tak ada gading yang tak retak “ begitupun dengan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga penulis memohon kritik dan saran yang membangun dalam pengembangan atau perbaikan untuk   makalah ini kedepannya.
Semoga dengan pembuatan makalah Ekologi Umum yang spesifik membahas mengenai “Ekologi Komunitas“  ini dapat menambah informasi bagi kita tentang segala hal yang berhubungan dengan kesehatan.






Makassar, 5 Mei  2012


                                                                                             Kelompok 8


BAB I
PENDAHULUAN

I.1  Latar Belakang
Komunitas merupakan kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi. Nama Komunitas. Nama komunitas harus dapat memberikan keterangan mengenai sifat-sifat komunitas tersebut. Cara yang paling sederhana, memberi nama itu dengan menggunakan kata-kata yang dapat menunjukkan bagaimana wujud komunitas seperti padang rumput, padang pasir, hutan jati.
Cara yang paling baik untuk menamakan komunitas itu adalah dengan mengambil beberapa sifat yang jelas dan mantap, baik hidup maupun tidak. Ringkasannya pemberian nama komunitas dapat berdasarkan : 1) Bentuk atau struktur utama seperti jenis dominan, bentuk hidup atau indikator lainnya seperti hutan pinus, hutan agathis, hutan jati, atau hutan Dipterocarphaceae, dapat juga berdasarkan sifat tumbuhan dominan seperti hutan sklerofil
2) Berdasarkan habitat fisik dari komunitas, seperti komunitas hamparan lumpur, komunitas pantai pasir, komunitas lautan,dll, 3) Berdasarkan sifat-sifat atau tanda-tanda fungsional misalnya tipe metabolisme komunitas. Berdasarkan sifat lingkungan alam seperti iklim, misalnya terdapat di daerah tropik dengan curah hujan yang terbagi rata sepanjang tahun, maka disebut hutan hujan tropik. Macam-macam Komunitas. Di alam terdapat bermacam-macam komunitas yang secara garis besar dapat dibagi dalam dua bagian yaitu (1) Komunitas akuatik, komunitas ini misalnya yang terdapat di laut, di danau, di sungai, di parit atau di kolam, (2) Komunitas terrestrial, yaitu kelompok organisme yang terdapat di pekarangan, di hutan, di padang rumput, di padang pasir, dll.

I.2  Tujuan
            Tujuan penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut :
1.      Mengetahui dan memahami pengertian komunitas
2.       Mengetahui dan memahami pembagian komunitas
3.      Mengetahui dan memahami pengertian struktur komunitas
4.      Mengetahui dan memahami konsep pengamatan pola komunitas
5.      Mengetahui dan memahami  interaksi antar spesies anggota populasi














BAB II
PEMBAHASAN

I.1 Pengertian Komunitas
 Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi.
Komunitas ialah beberapa kelompok makhluk yang hidup bersama-sama dalam suatu tempat yang bersamaan, misalnya populasi semut, populasi kutu daun, dan pohon tempat mereka hidup membentuk suatu masyarakat atau suatu komunitas.   Dengan memperhatikan keanekaragaman dalam komunitas dapatlah diperoleh gambaran tentang kedewasaan organisasi komunitas tersebut.  Komunitas dengan populasi ibarat makhluk dengan sistem organnya, tetapi dengan tingkat organisasi yang lebih tinggi sehingga memiliki sifat yang khusus atau kelebihan yang tidak dimiliki oleh baik sistem organ maupun organisasi hidup lainnya.
 Perubahan komunitas yang sesuai dengan perubahan lingkungan yang terjadi akan berlangsung terus sampai pada suatu saat terjadi suatu komunitas padat sehingga timbulnya jenis tumbuhan atau hewan baru akan kecil sekali kemungkinannya.  Namun, perubahan akan selalu terjadi.  Oleh karena itu, komunitas padat yang stabil tidak mungkin dapat dicapai.  Perubahan komunitas tidak hanya terjadi oleh timbulnya penghuni baru, tetapi juga hilangnya penghuni yang pertama.
Sering terjadi, spesies tumbuhan dan hewan dijumpai berulangkali dalam pelbagai komunitas dan menjalankan fungsi yang agak berbeda.  Kombinasi antara habitat , tempat suatu spesies hidup, dengan fungsi spesies dalam habitat itu memberikan pengertian nicia (niche). Konsep nicia ini penting karena selain dapat digunakan untuk meramal macam tumbuhan dan hewan yang yang dapat ditemukan dalam suatu komunitas, juga dipakai untuk menaksir kepadatan serta fungsinya pada suatu musim. 
Kepadatan individu dalam suatu populasi langsung dapat dikaitkan dengan pengertian keanekaragaman.  Istilah ini dapat diterapkan pada pelbagai bentuk, sifat, dan ciri suatu komunitas.  Misalnya, keanekaragaman di dalam spesies, keanekaragaman dalam pola penyebaran.  Margalef (1958) mengemukakan bahwa untuk menentukan keanekaragaman komunitas perli dipelajari aspek keanekaragaman itu dalam organisasi komuniatsnya.  Misalnya mengalokasikan individu populasinya ke dalam spesiesnya, menempatkan spesies tersebut ke dalam habitatnya, menentukan kepadatan relatifnya dalam habitat tersebut  dan menempatkan setiap individu ke dalam tiap habitatnya dan menentukan fungsinya. Dengan memperhatikan keanekaragaman dalam komunitas dapat diperoleh gambaran tentang kedewasaan organisasi komunitsas tersebut.  Hal ini menunjukkan tingkat kedewasaannya sehingga keadaannya lebih mantap. 
Komunitas, seperti halnya tingkat organisasi makhluk hidup lain, juga mengalami serta menjalani siklus hidup.
Komunitas Ditinjau dari segi fungsinya, tumbuhan dan hewan dari berbagai jenis yang hidup secara alami di suatu tempat membentuk suatu kumpulan yang di dalamnya setiap individu menemukan lingkungan yang dapat memunuhi kebutuhan hidupnya dalam kumpulana ini terdapat pula kerukunan untuk hidup bersama, toleransi kebersamaan dan hubungan timbal balik yang menguntungkan sehingga dalam kumpulan ini terbentuk suatau derajat keterpaduan. Kelompok seperti itu yang tumbuhan dan hewannya secara bersama telah menyesuaikan diri dan mempunyai suatu tempat alami disebut komunitas. Konsep komunitas cukup jelas, tetapi sering kali pengenalan dan penentuan batas komunitas tidaklah mudah.
Meskipun demikian komponen-komponen komunitas ini mempunyai kemampuan untuk hidup dalam lingkungan yang sama di suatu tempat dan untuk hidup saling bergantung yang satu dengan yang lain. Komunitas memiliki derajat kepaduan yang lebih tinggi daripada individu-individu dan populasi tumbuhan serta hewan yang menyusunnya. Komposisi suatu komunitas ditentukan oleh seleksi tumbuhan dan hewan yang kebetulan mencapai dan mamapu hidup di tempat tersebut, dan kegiatan anggota-anggota komunitas ini bergantung pada penyesuaian diri setiap individu terhadap faktor-faktor fisik dan biologi yang ada di tempat tersebut.
Bila ditinjau dari segi deskritif suatu komunitas dicirikan oleh komposisinya yang tertentu.sering kali perubahan komposisi jenis di isi suatu komunitas lain sangat nyata. Dan bila jenis-jenis utama dari dua komunitas berbeda sekali batas antara komunitas itu akan jelas pula. Tetapi dapat pula perubahan komposisi jenis itu terjadi secara berangsur-angsur sehingga batas anatara komunitas itu tidak jelas. Perubahan-perubahan komposisi berkaitan dengan perubahan faktor-faktor lingkungan, misalnya topografi, kelembapan, tanah, tamperatur dan iklim (bila mencakup kawasan yang luas).
Suatu komunitas dapat mengkarakteristikkan sutau unit lingkungan yang mempunyai kondisi habitat utama yang seragam. Unit lingkungan seperti ini disebut biotop. Hamparan lumpur, pantai pasir, gurun pasir dan unit lautan merupakan contoh biotop. Disini biotop ditentukan oleh sifat-sifat fisik. Biotop-biotop lain dapat pula dicirikan oleh unsur organisme nya, misalnya pada alang-alang, hutan tusam, hutan cemara, rawa kumpai, dan sebagainaya.
Dalam suatu komunitas pengendali kehadiran jenis-jenis dapat berupa satu atau beberapa jenis tertentu atau dapat pula sifat-sifat fisik habitat. Meskipun demikian tidak ada batas yang nyata antara keduanya serta kedua-duanya dapat saja beroperasi secara bersama-sama atau saling mempengaruhi. Misalnya saja kondisi tanah, topografi, elefasi, dan iklim yang memungkinkan cemara gunung ( casuarina junghuhniana )untuk berkembang biak di suatu tempat, dan pada gilirannya kehadiran jenis cemara ini menciptakan lingkungan tertentu yang cocok untuk pertumbuhan jenis hewan dan tumbuhan tertentu. Suatu jenis yang dalam suatu komunitas jenis dominan, atau dapat dikatakan pula sebagai jenis yang merajai.
Dikawasan tropika jarang sekali  terjadi komunitas alami dirajai oleh hanya satu jenis, dan bila ada biasanya komunitas tersebut mempunyai habitat yang ekstrim yang hanya jenis-jenis tertentu saja yang dapat toleran dan mampu hidup pada habitat tersebut. Sebagai contoh dapay kita ambil hutan manggrove ( hutan payau atau hutan bakau ) yang dirajai oleh beberapa jenis saja dan masing-masing jenis menjadi dominan pada kondisi habitat tertentu. Pada umumnya dikawasan tropik dalam suatu komunitas setiap jenis mempunyai kedudukan yang hampir sama, tidak ada yang menjadi ” raja ” atau ” dominan”. Karekteristik komunitas dikawasan tropis adalah keanekaragaman jenis tinggi. Keanekaragaman ( diversity ) adalah jumlah jenis tumbuhan atau hewan yang hidup pada suatu tempat tertentu. Dihutan Kalimantan misalnya dalam satu hektar teradapat pohon ( dengan diameter lebih dari 10 cm ) sebanyak kurang lebih 400-500 yang tergolong dalam 150-200 jenis, sehingga rata setiap  jenis hanya mempunyai kurang lebih 2 pohon perhektar. Tidak demikian halnya dikawasan beriklim sedang dan dingin. Dalam satu hektar mungkin hanya terdapat 10-20 jenis saja, bahkan kurang dari itu.
Keanekaragaman kecil terdapat pada komunitas yang terdapat pada daerah dengan lingkungan yang ekstrim, misalnya kering, tanah miskin, dan pegunungan tinggi. Sementara itu keanekaragaman tinggi terdapat di daerah dengan lingkungan optimum. Hutan tropika adalah contoh komunitas yang mempunyai keanekaragaman tinggi, seperti dicontohkan pada hutan di Kalimantan. Sementara ahli-ahli ekologi berpendapat bahwa komunitas yang mempunyai keanekaragaman jenis yang tinggi itu stabil sehingga sering dikatakan diversity is sability. Tetapi ada juga ahli-ahli yang berpendapat sebaliknya, bahwa keanekaragaman tidak selalu berarti stabilitas. Kedua pendapat ini di topang oleh argumen-argumen ekologi yang masuk akal, masing-masing ada benarnya dan ada kekurangannya.
Hutan tropika basah merupakan komunitas yang dominan di Indonesia. Sifat yang menyolok dari hutan tropis basah adalah volum persatuan luas dari biomassa yang ada diatas tanah, sehingga memberi kesan bahwa lahan yang ditumbuhinya itu merupakan lahan yang sangat subur. Tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian, tanah hutan dikawasan tropis itu umumnya miskin, kecuali tanah-tanah alufial yang baru dan tanah-tanah vulkanik. Karena hujan lebat sering terjadi, maka tanah juga mudah sekali terkena pembasuhan . Dalam keadaan demikian tidaklah efisien dan menguntungkan bagi pertumbuhan apabila kesuburan itu di simpan dalam tanah Tanggap dalam keadaan seperti ini, tumbuhan yang tumb dalam habitat itu melalui proses evolusi telah mengadaptasikan  diri dan mengembangkan suatu sistem untuk mencegah kehilangan hara makanan. Sistem daun hara dalam hutan tropis basah sangat ketat, tahan kebocoran dan berjalan cepat, arti kata bahwa hara makanan yang dilepas oleh dekomposisi serasa segera di serap kembali untuk digunakan dalam pertumbuhan dan kemudian digabungkan kedalam tubuh tumbuhan.
Oleh karena temperatur dan kelembapan dikawasan tropik ini tinggi, serasa yang digugurkan oleh tumbuhan setiap hari tidak tertimbun lebih lama dilantai hutan melainkan segera mengalami dekomposisi. Proses dekomposisi berjalan jauh lebih cepat dari pada di hutan-hutan beriklim sedang dan dingin. Serasa menghilang dalam waktu beberapa minggu saja. Penyerapan hara makanan sering pula dibantu oleh kehadiran jamur-jamur mikroriza yang hidup bersimbiosis dengan akar-akar. Miselia jamur itu sendiri bertindak sebagai organ penyerap bagi tumbuhan inagnya. Sering pula dapat dijumpai bahwa bulu-bulu akar dan miselia masuk kedalam daun-daun atau jaringan-jaringan yang sedang berdekomposisi dan langsung menyerap hara makanan.
Jadi jelas sekali bahwa sebagian besar hara makanan yang dilepas oleh serasah tersebut tidak mempunyai kesempatan untuk disimpan dalam tanah tetapi langsung dikembalikan ke dalam tubuh tumbuhan. Dengan demikian nyata sekali bahwa sebagian besar hara makanan di hutan tropis basah tersimpan dalam tumbuhan hidup. Oleh karena kondisi yang seperti itu, maka akan terrjadi limpahan hara yang mendadak bila hutan ditebang habis kemudian di ikuti dengan pembakaran, tetapi hara makanan tersebut tidak akan tinggal terlalu lama dalam tanah karena akan segera dibasuh oleh hujan lebat. Besar kesuburan tanah akan meningkat cepat tetapi hanya untuk sementara saja dan biasanya menurun lagi dengan cepat dalam tempo beberapa tahun.
Ini yang menjadi alasan kenapa perladangan berpindah hanya dapat bertahan beberapa tahun saja. Daun-daun bahan organik dan mineral terputus sama sekali dengan adanya penebangan  habis, karena arus penyediaan penerus bahan-bahan organik dari tumbuhan hidup terpenggal.
Nama komunitas harus dapat memberikan keterangan mengenai sifat-sifat komunitas tersebut. Cara yang paling sederhana, memberi nama itu dengan menggunakan kata-kata yang dapat menunjukkan bagaimana wujud komunitas seperti padang rumput, padang pasir, hutan jati.
Cara yang paling baik untuk menamakan komunitas itu adalah dengan mengambil beberapa sifat yang jelas dan mantap, baik hidup maupun tidak. Ringkasannya pemberian nama komunitas dapat berdasarkan :
1.      Bentuk atau struktur utama seperti jenis dominan, bentuk hidup atau indikator  lainnya seperti hutan pinus, hutan agathis, hutan jati, atau hutan Dipterocarphaceae, dapat juga berdasarkan sifat tumbuhan dominan seperti hutan sklerofil
2.      Berdasarkan habitat fisik dari komunitas, seperti komunitas hamparan lumpur, komunitas pantai pasir, komunitas lautan,dll
3.      Berdasarkan sifat-sifat atau tanda-tanda fungsional misalnya tipe metabolisme komunitas. Berdasarkan sifat lingkungan alam seperti iklim, misalnya terdapat di daerah tropik dengan curah hujan yang terbagi rata sepanjang tahun, maka disebut hutan hujan tropik.

II.2 Pembagian Komunitas
Macam-macam Komunitas. Di alam terdapat bermacam-macam komunitas yang secara garis besar dapat dibagi dalam dua bagian yaitu
1.      Komunitas akuatik, komunitas ini misalnya yang terdapat di laut, di danau, di sungai, di parit atau di kolam.
2.      Komunitas terrestrial, yaitu kelompok organisme yang terdapat di pekarangan, di hutan, di padang rumput, di padang pasir, dll.
Menurut Nybakken (1988) bagi tumbuhan akuatik, intensitas cahaya sangat menentukan penggunaan energy untuk fotosintesis.Tumbuhan kekurangan energy jika intensitas cahaya berkurang. Semakin cerah suatu perairan semakin jauh cahaya matahari yang dapat tembus kedalam perairan dan dengan begitu akan banyak ditemukan tumbuhan laut seperti lamun yang memerlukan cahaya matahari untuk melakukan fotosintesis.
Pada umumnya perairan organic lebih cerah daripada perairan pantai yang banyak bahan-bahan berbentuk partikel dan bahan terlarut yang terdapat didalamnya.  Berdasarkan bentuknya, waduk dapat diklasifikasikan atas waduk tipe danau (lake type), tipe sungai (river type), tipe bercabang banyak (multiple branch type). Waduk Faperika dapat digolongkan ke dalam tipe danau, karena terjadinya waduk ini akibat pembendungan suatu dataran rendah dan bentuknya yang melebar.
Sumber air ini adalah air yang mengalir dan meresap dari catchman area yang ada disekitarnya karena tidak ada aliran sungai yang masuk ke waduk ini. (Nurdin et al, 1996). Komunitas adalah kumpulan populasi yang hidup didaerah tertentu atau habitat fisik tertentu dengan satuan yang terorganisir. Selanjutnya, dikatakan bahwa komunitas merupakan suatu system dari kumpulan populasi yang hidup pada areal tertentu dan terorganisasi secara luas dengan karakteristik tertentu, serta berfungsi sebagai kesatuan transformasi metabolis.(Odum,1971).
Beberapa karakteristik struktur komunitas yang biasanya dijadikan petunjuk adanya derajad ketidakstabilan ekologis meliputi : keseragaman,dominansi, keragaman, dan kelimpahan.( Krebs, 1997) Wardoyo (1981), mengemukakan bahwa suhu air merupakan faktor yang cukup penting bagi lingkungan perairan, kecerahan dan kekeruhan. Setiap spesies atau kelompok mempunyai batas toleransi maksimum dan minimum untuk hidupnya.
Kenaikan suhu akan menyebabkan naiknya kebutuhan oksigen untuk reaksi metabolisme dalam tubuh organisme. Kecerahan adalah suatu parameter  perairan yang merupakan suatu kedalaman dari perairan atau lapisan perairan yang dapat ditembus oleh sinar matahari. Kecerahan merupakan salah satu parameter dari produktivitas perairan karena kecerahan perairan merupakan hubungan langsung dengan zona fotik.
Suhu berpengaruh secara langsung dan tidak langsung terhadap organisme perairan. Secara langsung suhu berpengaruh pada fisiologi fotosintesis, sedangkan secara tak langsung suhu menentukan terjadinya stratifikasi atau pencampuran struktur perairan yang menjadi habitat organisme perairan (Nontji, 1981).
Komunitas dapat dicatat dengan kategori utama dari bentuk-bentuk pertumbuhan pertumbuhan (pohon, semak, belikar, lumut dan alga) yang menyusun struktur komunitas hewan dan tumbuhan secara fisik (Odum,1971:Krebs,1978:Begon,Harper,dan Townsend,1996).

II.3  Pengertian Pola Komunitas
Struktur yang diakibatkan oleh penyebaran organisme di dalam, dan interaksinya dengan lingkungannya dapat disebut pola (Hutchinson, 1953). Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain.

Berikut adalah struktur komunitas dan karakter komunitas
1.      Kualitatif, seperti komposisi, bentuk hidup, fenologi dan vitalitas. Vitalitas menggambarkan kapasitas pertumbuhan dan perkembangbiakan organisme.
2.      Kuantitatif, seperti Frekuensi, densitas dan densitas relatif. Frekuensi kehadiran merupakan nilai yang menyatakan jumlah kehadiran suatu spesies di dalam suatu habitat. Densitas (kepadatan) dinyatakan sebagai jumlah atau biomassa per unit contoh, atau persatuan luas/volume, atau persatuan penangkapan.
3.      Sintesis adalah proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah yang berlangsung lambat secara teratur pasti terarah dan dapat diramalkan. Suksesi-suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitasnya dan memerlukan waktu. Proses ini berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem yang disebut klimas. Dalam tingkat ini komunitas sudah mengalami homoestosis. Menurut konsep mutahir suksesi merupakan pergantian jenis-jenis pioner oleh jenis-jenis yang lebih mantap yang sangat sesuai dengan lingkungannya.
Banyak macam pengaturan yang berbeda-beda dalam standing crop dari organisme yang memberikan sumbanagan kepada keanekaragaman pola di dalam komunitas seperti, misalnya : 1. Pola stratifikasi (pelapisan tegak), 2. Pola-pola zonasi (pemisahan ke arah mendatar), 3. Pola-pola kegiatan (periodisitas), 4. Pola-pola jaring-jaring (organisasi jaringan kerja di dalam rantai pangan), 5. Pola reproduktif (asosiasi-asosiasi orang anak-anak, klone-klone tanaman dan sebagainya), 6. Pola-pola social (kelompok-kelompok dan kawanan-kawanan), 7. Pola-pola ko-aktif (di akibatkan oleh pesaingan antibiosis, mutualisme dan sebagainya), dan 8. Pola-pola stochastic (diakibatkan oleh tenaga atau kakas acak).

II.4 Konsep pengamatan pola komunitas
Whittaker (1970) mengemukakan bahwa ada tiga konsep yang dapat diterapkan dalam mengamati pola komunitas. Pertama, apa yang dinamakan gradasi komunitas (community gradient, coenocline) yaitu konsep yang dinyatakan dalam bentuk populasi. Kedua, konsep gradasi lingkungan (environmental gradient), yang menyangkut sejumlah faktor lingkungan yang berubah secara bersama-sama.
Umpamanya saja, dalam gradasi elevasi (elevation gradient) termasuk factor-faktor penurunan suhu rata-rata, pertambahan curah hujan, pertambahan kecepatan angin dan sebagainya, kearah ketinggian yang meningkat. Factor-faktor ini secara menyeluruh mempengaruhi kehidupan tumbuhan dan hewan, dan sangat sulit menentukan factor mana sebenarnya yang paling penting dalam sebuah populasi, tanpa eksperiman kelompok factor lingkungan berubah secara bersama-sama. Sepanjang perubahan tersebut terjadi pula perubahan komunitas, dan tentunya  populasi dalam komunitas ini dipengaruhi pula.  Kedua hal tersebut dinamakan kompleks gradasi (complex gradient). Ketiga, apa yang dinamakan gradasi ekosistem (ecocline), yang dalam hal ini kompleks gradasi dan gradasi komunitas membentuk suatu kesatuan dan membentuk gradasi komunitas dan lingkungan.
Penelitian komunitas dengan menghubungkan ketiga gradasi, yaitu gradasi factor lingkungan, populasi dan karakteristik komunitas, disebut  analisis gradasi (whittaker, 1970). Dengan analisis gradasi ini factor-faktor lingkungan dijadikan sebagai dasar dalam mencari hubungan yang erat antara variasi lingkungan dengan variasi populasi jenis dan komunitas.
Sebaliknya juga variasi populasi jenis dan komunitas dapat dipakai sebagai dasar penelitian komunitas ini dan kemudian gradasi komunitas ini dapat di korelasikan dengan factor-faktor lingkungan yang mungkin juga membentuk suatu gradasi. Cara yang terakhir ini disebut ordinasi yang tidak lain adalah pengaturan komunitas-komunitas dalam suatu deretan menurut variasi komposisinya. Sering pula cara ini disebut analisis gradasi tidak langsung (indirect gradient analysis). Kedua cara ini merupakan alternatif pendekatan terhadap komunitas dengan cara kualifikasi. Dengan pendekatan klasifikasi ini, dibuat suatu pengenalan tipe komunitas dan kemudian komunitas ini dikarakteristikkan dengan factor lingkungannya, komposisi jenis atau dengan karakteristik komunitas lainnya.
            Seringkali kita juga menggunakan analisis gradasi terhadap pola komunitas yang mempunyai hubungan dengan beberapa faktor lingkungan. Di pegunungan umpamanya, ketinggian dari permukaan laut dan kandungan air tanah(sebagai akibat keadaan tofografi) mempunyai efek yang besar terhadap komunita, ini dapat dilakukan dengan membuat transek yang memotong topografi, dan sepanjang transek ini pola vegetasinya kita analisis. Whittaker(1970) membuat suatu pendekatan lain. Ia membuat kedua kompleks gradasi tersebut menjadi sumbu vertikal dan horizontal sebuah diagram. Contoh-contoh vegetasi diambil secara acak dari berbagai posisi yang ada hubungannya dengan kedua faktor (sumbu) tersebut. Dalam tiap-tiap posisi, vegetasinya dianalisis untuk memperoleh nilai penting (importance value) masing-masing jenis tipe komunitas pun dapat dibuat.
Populasi, jenis dan tipe komunitas kemudian dapat di gariskan dalam diagram tersebut untuk menunjukkan hubungannya satu sama lain dan dengan lingkungan pegunungan.

II.5 Interaksi Antar Spesies Anggota Populasi
            Interaksi yang terjadi antar spesies anggota populasi akan mempengaruhi terhadap kondisi populasi mengingat keaktifan atau tindakan individu dapat mempengaruhi kecepatan pertumbuhan ataupun kehidupan populasi. Menurut Odum(1993), setiap anggota populasi dapat memakan anggota-anggota populasi lainnya, bersaing terhadap makanan, mengeluarkan kotoran yang merugikan lainnya, dapat saling membunuh, dan interaksi tersebut dapat searah ataupun dua arah (timbale balik). Oleh karena itu, dari segi pertumbuhan atau kehidupan populasi, interaksi antar spesies anggota populasi dapat merupakan interaksi yang positif, negative, atau nol.
            Interaksi spesies anggota populasi merupakan suatu kejadian yang wajar di alam atau di suatu komunitas, dan kejadian tersebut mudah di pelajari(irwan, 1992). Interaksi antar spesies tidak terbatas antara hewan dengan hewan, tetapi interaksi terjadi secara menyeluruh termasuk terjadi pada tumbuhan, bahkan antar tumbuhan dengan hewan. (vickery,1984) menyatakan bahwa meskipun pertumbuhan mampu menyintesis makanannya sendiri, namun kenyataannya tumbuhan hijau tetap tidak pernah benar-benar independent (berdiri sendiri) banyak spesies tumbuhan hijau yang bergantung pada hewan misalnya burung dan serangga dalam memperlancar penyerbukan bunga dan penyebaran biji.
Demikian juga antar tumbuhan di alam dapat saling bergabung membentuk hutan dengan berbagai pelapisan tajuk yang satu dengan lainnya saling menutup, ada kalanya suatu spesies tumbuhan memerlukan rambatan atau harus hidup menempel pada tumbuhan lainnya, ada kalanya suatu spesies tumbuhan perlu naungan (penutupan) tumbuhan lainnya sehingga masing-masing organisme yang berdampingan dapat melakukan tugas sesuai kedudukan dan fungsinya.
1. Interaksi antar organisme
Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak kita lihat di sekitar kita.
Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan ada yang kurang erat. Interaksi antarorganisme dapat dikategorikan sebagai berikut.
·         Netral adalah hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak, disebut netral. Contohnya : antara capung dan sapi.
·         Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa. Contoh : Singa dengan mangsanya, yaitu kijang, rusa,dan burung hantu dengan tikus.
·         Parasitisme adalah hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, bilasalah satu organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari hospes/inangnya sehingga bersifat merugikan inangnya. Contoh : Plasmodium dengan manusia, Taeniasaginata dengan sapi, dan benalu dengan pohon inang.
·         Komensalisme adalah merupakan hubunganantara dua organisme yang berbeda spesies dalam bentuk kehidupan bersama untuk berbagi sumber makanan; salah satu spesies diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan. Contohnya anggrek dengan pohon yang ditumpanginya.
·         Mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Contoh, bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar kacang-kacangan.
2. Interaksi Antarpopulasi
Antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi secara langsung atau tidak langsung dalam komunitasnya. Contoh interaksi antarpopulasi adalah sebagai berikut:
Ø  Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa.Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.
Ø  Kompetisi merupakan interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi kambing dengan populasi sapi di padang rumput.
3. Interaksi Antar Komunitas
Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya komunitas sawah dan sungai. Komunitas sawah disusun oleh bermacam-macam organisme, misalnya padi, belalang, burung, ular, dan gulma. Komunitas sungai terdiri dari ikan, ganggang, zooplankton, fitoplankton, dan dekomposer. Antara komunitas sungai dan sawah terjadi interaksi dalam bentuk peredaran nutrien dari air sungai ke sawah dan peredaran organisme hidup dari kedua komunitas tersebut.
Interaksi antarkomunitas cukup komplek karena tidak hanya melibatkan organisme, tapi juga aliran energi dan makanan. Interaksi antarkomunitas dapat kita amati, misalnya pada daur karbon. Daur karbon melibatkan ekosistem yang berbeda misalnya laut dan darat.


4. Interaksi Antarkomponen Biotik dengan Abiotik
Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubunganantara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi.
Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru.


















BAB III
PENUTUP
III.1 KESIMPULAN

Ø  Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi.
Ø  Macam-macam Komunitas. Di alam terdapat bermacam-macam komunitas yang secara garis besar dapat dibagi dalam dua bagian yaitu Komunitas akuatik dan komunitas terrestrial.
Ø  Karakter suatu komunitas yaitu meliputi Kualitatif, Kuantitatif, dan Sintesis.
Ø  Whittaker (1970) mengemukakan bahwa ada tiga konsep yang dapat diterapkan dalam mengamati pola komunitas. Pertama, apa yang dinamakan gradasi komunitas (community gradient, coenocline) yaitu konsep yang dinyatakan dalam bentuk populasi. Kedua, konsep gradasi lingkungan (environmental gradient), yang menyangkut sejumlah faktor lingkungan yang berubah secara bersama-sama. Umpamanya saja, dalam gradasi elevasi (elevation gradient) termasuk factor-faktor penurunan suhu rata-rata, pertambahan curah hujan, pertambahan kecepatan angin dan sebagainya, kearah ketinggian yang meningkat.
Ø  Menurut Odum(1993), setiap anggota populasi dapat memakan anggota-anggota populasi lainnya, bersaing terhadap makanan, mengeluarkan kotoran yang merugikan lainnya, dapat saling membunuh, dan interaksi tersebut dapat searah ataupun dua arah (timbale balik). Oleh karena itu, dari segi pertumbuhan atau kehidupan populasi, interaksi antar spesies anggota populasi dapat merupakan interaksi yang positif, negative, atau nol.
Ø  Interaksi spesies anggota populasi merupakan suatu kejadian yang wajar di alam atau di suatu komunitas, dan kejadian tersebut mudah di pelajari(irwan, 1992). Interaksi antar spesies tidak terbatas antara hewan dengan hewan, tetapi interaksi terjadi secara menyeluruh termasuk terjadi pada tumbuhan, bahkan antar tumbuhan dengan hewan.

III.2 SARAN
                  Saran agar makalah ini dipergunakan sebagai referensi sebaik-naiknya.
















DAFTAR PUSTAKA

Indriyanto, 2008, Ekologi Hutan, Jakarta : Bumi Aksara

Odum, E. P., 1994., Dasar-Dasar Ekologi, Yogjakarta : UGM Press

Pringgoseputro, S. , 1998,  Ekologi Umum,  Yogjakarta: UGM Press

Resosoedarmo, S., 1989, Pengantar Ekologi, Bandung: CV REMADJA KARYA

Soeriaatmadja, 1989, Ilmu Lingkungan, Bandung: ITB Press

0 komentar:

Poskan Komentar